buku
Insya Allah, Saya Serius: NU, Muhammadiyah & Budaya Arab
Diktum Arab adalah Islam, yang seringkali berakibat Islam adalah Arab, menjadi semacam rangka pemikiran yang telah membuat kita tidak bersikap realistis selama ini. Sudah waktunya cara memandang semacam ini diubah, dengan cara menyadari sepenuhnya akan besarnya diversifikasi unsur kebudayaan Arab, sebagaimana juga yang dimiliki oleh kebudayaan bangsa kita sendiri. Salah satu hal yang mendorong munculnya orientasi untuk cenderung kepada kegiatan praktis sebagai perwujudan diri, yang menjadi inti aktivisme kemasyarakatan itu adalah watak egalitarian dari Muhammadiyah dalam pemikiran keagamaannya. Egalitarisme ini tercermin dalam susunan Majlis Tarjih dan Tanwirnya, yang tidak mendasari besarnya pesantren yang diasuh dan pengaruh massa yang dimiliki oleh calon anggotanya. Reputasi dalam pengabdian, ketekunan dan ketaatan asas dalam pandangan agama dan pengetahuan minimal di bidang ilmu agama sudah cukup untuk menjadi anggota kedua lembaga tinggi Muhammadiyah tersebut. Harus diakui sebagian besar umat Islam masih belum bersikap secara proporsional betul. Mereka keras sekali terhadap hal sepele, tapi lunak dalam hal dasar. Umat Islam sangat peka terhadap yang a-moral, namun tidak demikian terhadap yang a-sosial. Jika ada orang yang sedikit saja berperilaku porno misalnya mereka akan ganyang habis habisan sementara menyaksikan orang korupsi atau orang kaya yang tidak peduli lingkungannya yang miskin, dibiarkan saja.
Tidak tersedia versi lain